Cianjur,Jabar Liputan-6plus.com
Sebagai Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam memajukan daerah yang memiliki kekayaan budaya yang sangat besar ini.
Namun, di balik keberhasilannya, ada rasa kasihan yang muncul ketika melihat perjuangannya yang seolah berjalan sendirian dalam membenahi Jawa Barat.
Tidak mudah bagi seorang pemimpin untuk mengatasi tantangan sebesar ini tanpa dukungan yang kuat dari para pemangku kepentingan di tingkat kabupaten dan kota.
Yang paling utama dari kepemimpinan KDM adalah kemampuannya untuk memahami secara mendalam pemajuan kebudayaan dan pola pembangunan berbasis kebudayaan.
KDM menekankan bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus berlandaskan pada kekuatan budaya lokal, karena itulah yang akan memperkuat identitas Jawa Barat.
Namun, tantangan terbesar terletak pada kenyataan bahwa tidak semua bupati atau walikota di Jawa Barat memiliki visi dan karakter yang sejalan dengan KDM.
Karakter KDM yang tegas dan lugas, serta penguasaan bahasa Sunda yang kental, sering kali menjadi ciri khas dalam gaya kepemimpinannya. Namun, apakah semua kepala daerah di Jawa Barat memiliki karakter yang sama? Jawabannya tentu saja tidak.
Ketika pemimpin di tingkat kabupaten dan kota tidak memiliki visi yang sama atau tidak sinergi dengan KDM, maka pembangunan di Jawa Barat akan berjalan tanpa sinergi yang kuat, dan KDM akan merasa seperti berjalan sendirian tanpa pendamping atau teman.
Fenomena ini tentu sangat miris, karena pendelegasian tugas dan tanggung jawab dalam pemerintahan yang tidak maksimal akan berakibat pada pelaksanaan program pembangunan yang tidak optimal.
Di antara sedikit pemimpin yang bisa sejalan dengan KDM, mungkin hanya Ibu Susi yang memiliki pemahaman dan visi yang serupa. Tanpa sinergi yang kuat, maka usaha untuk memajukan Jawa Barat akan terasa seperti berjalan di tempat.
Oleh: Faluzia Julian (Pemerhati Sosial Asal Cianjur)


















