banner 728x250
Budaya  

Suge,Jejak Sejarah Sebuah Gedung Tua Di Cianjur

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Cianjur,Jabar liputan-6plus.com

Oleh: Sejarawan Hendi Jo

banner 325x300

Gouw Kwan Lin bercerita dengan lancar mengenai sejarah Gedung Suge sebuah bangunan tua yang beralamat di Jalan Taifur Yusuf No. 50, Cianjur. Lelaki kelahiran 1946 ini mengungkapkan bahwa nama “Suge” berasal dari nama kakeknya, Gouw Soe Gwee, seorang pebisnis ternama di Cianjur pada era 1920-an.

“Karena lidah orang Cianjur sulit menyebut nama kakek saya, maka bangunan itu dikenal sebagai Gedung Suge,” ujar Gouw Kwan Lin, yang memiliki nama Indonesia Krisna Ganda Soegita.

Krisna adalah cucu dari pasangan Gouw Soe Gwee dan Thio Bie Giok Nio alias Maria. Ia merupakan putra ketiga dari Gouw Tek Lan (Trisna Loekita), anak dari pasangan Soe Gwee dan Giok Nio. Keluarga ini dikenal sebagai keluarga pebisnis sejak akhir 1800-an, bermula dari Gouw Ak Wan yang lebih dulu menetap dan membuka usaha di Cianjur.

Gouw Soe Gwee kemudian melanjutkan bisnis keluarganya, terutama di bidang penjualan bahan makanan dan minuman, yang sebagian besar dipasok kepada orang-orang Belanda. Kesuksesan itu memungkinkan Soe Gwee memperindah bangunan warisan sang ayah menjadi rumah sekaligus toko bergaya arsitektur Tionghoa-Eropa.

Kecintaan Soe Gwee terhadap budaya Eropa kemungkinan besar dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya di Hoogere Burgerschool (HBS). Di sana, ia akrab bergaul dengan anak-anak dari kalangan atas, termasuk anak pejabat Hindia Belanda dan sesama keturunan Tionghoa.

“Bahkan, dalam keseharian, katanya ia lebih suka berbicara dalam bahasa Belanda daripada bahasa Melayu atau Tionghoa,” ujar Pepet Johar, pengelola Museum Bumi Ageung Cianjur.

Dengan jaringan sosial yang luas, bisnis Soe Gwee berkembang pesat hingga menjangkau Sukabumi dan Bogor. Para administrator perkebunan Belanda pun kerap mendatangi tokonya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

Namun, di puncak kesuksesannya, Soe Gwee wafat pada 26 Januari 1935 di usia 51 tahun. Bisnis keluarga lalu diteruskan oleh keempat putranya, dan kemudian dipercayakan sepenuhnya kepada Gouw Tek Lan yang lahir pada 1921.

Di bawah kepemimpinan Tek Lan, usaha keluarga kembali berkembang hingga dihantam oleh kerusuhan rasial di Cianjur pada 1963. Dalam insiden itu, Toko Suge menjadi sasaran amuk massa dan dijarah, membuat bisnis keluarga Gouw porak-poranda.

Meskipun begitu, Tek Lan bangkit dan membangun kembali bisnisnya. Karena merasa perdagangan bahan makanan dan minuman sudah tidak relevan, ia beralih ke bisnis material bangunan. Meski tak seberjaya sebelumnya, usaha ini tetap mampu menghidupi keluarga hingga akhirnya diwariskan kepada Krisna.

Toko Suge masih beroperasi hingga awal 1990-an, menempati bangunan asli peninggalan Gouw Ak Wan dan Gouw Soe Gwee. Namun karena kondisi bangunan yang mulai rapuh, pada 1992 Krisna memindahkan toko ke seberangnya.

Kini, Gedung Suge berada di ambang kehancuran. Dari luar, masih tampak sisa keindahan arsitektur indis-nya. Namun bagian dalamnya menyedihkan dipenuhi semak liar, atap yang roboh, dan menjadi sarang burung kapinis. “Bahkan, pernah tumbuh sebatang pohon besar di dalam rumah, yang kemudian kami tebang,” kenang Krisna.

Cep Awan

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *